Berbagai test psikologi membuktikan bahwa aku Sanguin. Betul, aku suka jadi pusat perhatian. Aku suka dipuji orang (siapa yang ngga). Aku menikmati berada di tengah keramaian. Aku ekstrovert, definitely. Aku suka ngobrol sama siapa aja. Aku senang menyapa dan disapa. Aku nyaman berada di tengah-tengah orang yang belum kukenal.
Tapi pada suatu situasi aku bisa menjadi seorang introvert. Diam. Menutup diri. Mengurung diri. Ngobrol dengan diri sendiri. Memilih menyingkir. Menghindar dari keramaian. Ya, aku kadangkala menjadi sosok yang seperti itu.
Satu sore aku duduk di balkon kostan. Mendengarkan musik dari telepon seluler. Menyesap kopi panas. Melamun dan Menerawang. Sendirian.
Lain sore, bersama teman-teman sekantor, aku besenang-senang di karaoke. Bergaya gila-gilaan. Berteriak melepas penat. Menjadi tontonan dan bahan tertawaan. Puas.
Lain soal, lain urusan. Aku ngga terbiasa sarapan dengan nasi. Perut mual dan menolak untuk diisi kalo udah ketemu nasi. Tapi seiring waktu, ketika ada yang mengajak sarapan bersama, aku mulai menikmati sarapan dengan nasi. Atau karena laper sih, apa juga dimakan. hehehe.
Sebetulnya ini jadi membingungkan. Aku bingung menempatkan posisiku. Aku sempat menganggap diriku sebagai gadis plin-plan. Tidak berpendirian. Tidak punya sikap. Satu waktu aku suka singkong besoknya aku suka keju. Minggu kemaren aku benci minum susu, minggu ini aku ngeborong susu berkarton-karton. Mau ekstrovert atau introvert? Mau sanguin atau plegmatis?
Well I’m good at accepting. Suka karena biasa. Atau juga, oke daripada ngga ada. Hihihihi. Sejauh ini ngga nyusahin orang, kurasa ngga ada masalah toh. Pacarku, orangtuaku, temen2ku juga ngga pernah protes. Bagusnya, aku bisa mengakomodir keinginan semua pihak. Ada temen ngajak nonton Jazz live music, Yoook. Ada temen ngajakin nonton konser paduan suara, mareee. Ke luar kota naek pesawat, doyan. Pulang kampung naek bus ekonomi, siaaap.
Jadi, ini masalah adaptasi aja.